Suatu hari ada sebuah bejana yang bentuknya sangat biasa, bejana itu sudah tampak kusam dan ada goresan di sana-sini. Bahkan di bagian bawah bejana itu terdapat sebuah lubang yang membuatnya tidak dapat dipakai untuk menampung air. Lalu seorang penjunan bertanya kepada bejana itu,
“Maukah engkau aku ubahkan menjadi sebuah bejana yang indah yang akan dikagumi dan digunakan untuk hal-hal yang mulia?”
Namun bejana itu ragu untuk menjawab, sebab sebagian hatinya sudah pasrah akan kondisinya sekarang. Tetapi bagian hatinya yang lain mendorong bejana itu untuk bertanya,
“tapi bagaimana aku dapat diubahkan? Aku sudah berbentuk seperti ini. Andaikan aku dibersihkan dan lubangku ditambal pun, bentukku tak akan berubah. Tetap bejana biasa yang tak akan dipandang orang.”
Lalu penjunan itu menjawab,
“aku harus menghancurkanmu dulu menjadi tanah liat yang dapat kubentuk. Dan aku akan membentukmu menjadi bentuk paling indah yang akan pernah ada. Setelah itu aku akan membakarmu hingga kamu menjadi bejana dengan kualitas terbaik yang pernah ada.”
Jawaban itu sangat melemahkan hati si bejana, namun ia melihat hanya itu harapannya. Akhirnya ia menjawab, “Ya, Tuan. Aku mau. Bentuk aku, sekalipun akan menyakitkan namun aku tahu itu yang terbaik untukku.”
Penjunan itu lalu mulai menghancurkan bejana itu. Tetapi ketika bejana itu dihancurkan, ia melihat bahwa bahkan kini ia tidak lagi berbentuk bejana. Hatinya menjadi sangat cemas apakah ia akan menjadi bejana yang benar-benar indah ataukah hancur berantakan untuk selamanya.
Penjunannya mengetahui isi hati bejana itu dan ia berkata ,
”jangan takut hai bejana, percayalah aku sedang membuatmu menjadi yang terbaik, tetapi perlu kau ketahui hal-hal yang baik adalah musuh dari yang terbaik. Mungkin keadaanmu sebelumnya baik-baik saja, tapi jika kau memilih yang baik, kau tidak akan pernah menjadi yang terbaik.”


