Perjalanan menuju Alor dari Kupang dapat ditempuh dengan dua cara yaitu lewat jalur laut dan udara. Dari pelabuhan Bolok di Kupang, feri berangkat seminggu sekali setiap hari Sabtu menuju Kalabahi,Alor. Harga tiket berkisar dari 78 ribu rupiah untuk kelas ekonomi sampai 140 ribu rupiah untuk kelas VIP. Sementara harga perjalanan udara dengan pesawat perintis berkisar antara 350-500 ribu rupiah, namun tersedia hampir setiap hari. Selain harga, waktu tempuhnya juga jauh berbeda, perjalanan laut menghabiskan 18 jam sementara dengan udara hanya 1 jam.
Dengan alasan ingin berhemat, akhirnya kami memutuskan naik feri dari pelabuhan Bolok. Selain pelabuhan Bolok, terdapat juga pelabuhan Tenau di Kupang. Namun feri yang akan kami tumpangi berangkat dari pelabuhan Bolok. Kami sampai di pelabuhan Bolok sekitar pukul 10 dengan naik bemo. Awalnya kami pikir bisa dengan harga bemo biasa 2000 rupiah per orang, ternyata kami diminta 40000 rupiah karena dianggap memborong bemo. Kejadian tersebut sempat membuat kami dongkol karena merasa diperdaya. Namun, dibandingkan pengalaman yang kelak kami alami kejadian ini tidak lagi mengusik kami. Setelah sampai di pelabuhan, Kami langsung membeli tiket kelas ekonomi untuk keberangkatan pukul 12.
Kami berbekalkan roti, biskuit, dan popmie untuk perjalanan 18 jam ini, karena kami pikir harga nasi sangat mahal di pelabuhan. Memang, harga makanan yang dijual di dalam feri sangat mahal, namun di pelabuhan masih dapat ditoleransi. Bayangkan, di feri air panas untuk popmie dijual seharga dua ribu rupiah dan popmienya sepuluh ribu rupiah. Untungnya kami diberikan makan malam berupa nasi telur dengan mie. Namun, persiapkanlah perbekalan terbaik sebelum feri memulai perjalanannya.
Feri yang kami naiki ternyata kecil saja, tidak banyak ruang untuk bergerak apalagi terisi penuh dengan penumpang, pedagang, dan barang dagangannya belum termasuk barang-barang pindahan yang disimpan di lantai bawah feri. Selama beberapa jam awal perjalanan, kami dapat duduk tenang di kursi yang disediakan untuk penumpang kelas ekonomi. Rasa pegal dan bosan mulai terasa ketika setelahnya, apalagi kami kehabisan kasur sewaan seharga 15000 rupiah. Untungnya benak ini dipenuhi dengan berbagai ide tulisan dan juga adanya teman berbincang yang paham banyak hal. Akhirnya karena sudah lelah dan mengantuk, beta tidur beralaskan jaket di bawah kursi-kursi feri.
Di atas adalah foto yang diambil di atas feri dari siang menuju malam hari. Syukurnya, hari itu alam cukup bersahabat, tidak hujan sehingga tidak ada gelombang yang terlalu besar, padahal menurut penduduk setempat, Alor diterpa hujan sejak awal tahun baru 2012 dan hanya sempat tidak hujan di hari kedatangan kami itu. Setelah Pulau Pura dan Pulau Buaya terlihat dari feri sekitar pukul 5 pagi, kami tahu bahwa feri akan segera mendarat. Benar saja, pukul 07.30 kami sampai di pelabuhan Kalabahi. Kisah selanjutnya di Alor ini berlanjut di catatan-catatan selanjutnya setelah kami mendapatkan penginapan terlebih dahulu.

Renata Amelia
February 1, 2012 at 4:16 pm
Su, kenapa sampai 40ribu rupiah? Charter angkot?
taiyoo
February 7, 2012 at 12:40 am
Sebetulnya biasanya ada angkot dengan tujuan pelabuhan harga normal, tapi jarang. Angkot ini tiba-tiba nawarin jasa sekalipun pelabuhan bukan trayeknya. Kita udah tanya, tarif normal? Jawabnya iya, tapi begitu sampai minta harga borong..