Alor, selain terkenal dengan kenarinya, juga banyak dikunjungi oleh orang-orang yang ingin menyelam (diving). Terdapat beberapa lokasi strategis, kebanyakan terletak di antara Pulau Pantar dan Pulau Alor. Di antara kedua pulau besar tersebut terdapat beberapa pulau kecil yaitu : Pulau Buaya, Pulau Ternate, Pulau Pura, dan Pulau Kepa.
Hari itu 10 Januari 2012 hujan rintik-rintik, kami berempat menyeberang untuk melihat lokasi penginapan para penyelam itu. Pulau Kepa dapat ditempuh dengan perahu motol kecil dari Alor Kecil dalam waktu hanya sekitar 10 menit. Ternyata saat tersebut, Pulau Kepa sedang kosong. Dan di Pulau Kepa saat itu hanya ada tiga orang penjaga asli Alor yang dititipkan. Sementara paman yang barusan mengantar kami memutar untuk mengantarkan seorang Ibu yang juga menumpang, kami mengelilingi sekitaran pantainya. Pantai di sisi yang berhadapan dengan Alor Kecil masih banyak berbatu karang sehingga tidak dapat dipakai berenang. Pantai itu berpasir putih, sangat indah, sekalipun menurut kami keindahan Pantai Deere di Pulau Alor belum ada yang dapat menandingi.
Belum lama kami bermain di pantai, tiba-tiba langit mencurahkan hujan dengan lebat disertai tiupan angin pantai yang kencang, langsung menuju ke arah kami. Untungnya, ada gubuk yang ternyata biasanya dipakai tempat makan di diving resort tersebut dengan mendaki sedikit. Saat itu merupakan pengalaman menegangkan bagi kami untuk menyadari keganasan alam melalui badai yang terjadi.
Penjaga pulau Kepa yang baru mengantar kami pun ternyata ada di gubuk tersebut dan dia bercerita bahwa pemilik diving resort tersebut sedang kembali ke Prancis. Selain itu, di saat musim penghujan seperti saat itu tidak tepat untuk melakukan diving, karenanya diving resort tersebut hanya dibuka dari bulan Maret sampai dengan November. Dari pembicaraan itu pula, kami mengetahui bahwa orang Prancis tersebut telah 15 tahun berada di Alor dan fasih berbicara bahasa Indonesia dan Alor selain Inggris dan Prancis, padahal istrinya pun orang Prancis. Luar biasa benar!
Akhirnya, kami segera memanfaatkan kesempatan untuk kembali ke Pulau Alor ketika hujan lebat mulai mereda. Sekalipun kami hanya berfoto-foto saja, kami sudah merasa sangat puas dan mengucap syukur. Badai di Kepa telah menempa hidup kami untuk lebih tangguh lagi.
Foto di atas adalah peta antara Pulau Alor dan Pulau Pantar, Pulau Kepa berada di antaranya.

Renata Amelia
February 1, 2012 at 4:06 pm
Wah Su, yang mengembangkan dan menikmati hasil kecantikan alam Indonesia malah orang luar ya…. Mana bangsa Indonesianya? >o<