Repent Everyday

Yupz, pertobatan setiap hari.. Kenapa gw nulis seperti ini? Yah,karena Tuhan tegur gw.. Seneng karena Tuhan mau luruskan hidup gw, tapi sakit juga karena ego gw yang bilang lho kok Tuhan bilang gw harus bertobat. Kan gw ga buat dosa yang begimana gitu lho… Jadi ceritanya,beberapa hari ini gw frustate sendiri karena gw ga dipenuhi dengan hadiratNya. Sebenernya yah salah gw juga sih, ada waktu luang eh malah dipake maen karena dorongan hatinya lebih condong buat maen dan wasting time daripada cari Tuhan. Dan gitu terus berhari-hari.

Singkat cerita, gw ga dapetin Tuhan sekalipun gw tetep sate (karena sekedar rutinitas) tanpa ada daya juang lebih. Untungnya, Tuhan mulai ingetin sekalipun samar-samar, ingat untuk merespon dengan benar dalam menghadapi ujian. Gw ingat kata pembimbing gw,

“memang mudah untuk berdoa dan mencari Tuhan saat ada dorongan yang kuat untuk itu. Tapi, saat gak ada keinginan untuk mencari Tuhan, apakah kita mau untuk tetap mencari Tuhan dengan segenap hati? Apa kita mau berjuang untuk mengalahkan keinginan kita sendiri dan mendatangi Tuhan dengan penuh kerinduan? Apa kita tetap memprioritaskan Dia?”

Mungkin ini adalah ujian buat gw, apakah gw akan tetap mencari Tuhan dengan segenap hati di saat banyak pilihan lain yang ditawarkan dunia.

Back to pertobatan, kemaren kan ada kuliah olahraga. Terus kan memang gw gak terlalu jago di olahraga (tapi gw mengimani ga ada yang ga mungkin di dalam Tuhan. Bukan mustahil gw dapet A untuk mata kuliah OR kan? ^-^). Nah, di jam kuliah itu diambil nilai untuk UTS. Gw dapet giliran pertama, dan mencatat waktu 10,47 detik. Gw merasa itu sudah cukup cepat, tapi betapa gw shock ketika semua temen-temen yang lain termasuk yang agak chubby mencatat waktu di bawah 10 detik! Yah, gw rasa gw belum maksimal karena dapet urutan pertama jadi belom siap gitu. Pokoknya jadi ga tenang banget, dan di situ gw menyadari bahwa gw ga ngandalin Tuhan seutuhnya malah lebih ngandalin kekuatan sendiri. I set my focus to the problem, not to God. And I feel like a loser..

Akhirnya pulang kan, dan gw merenung. Akhir-akhir ini gw ga alami yang namanya pertobatan, karena gw merasa kan gw ga buat salah apa-apa? Tapi, di buku Pemburu Tuhan (yang gw baca lagi karena terinspirasi blognya Ona) gw dapetin bahwa seringkali kita merasa diri kita benar. Namun kita tidak “sesempurna” yang kita pikirkan dan Tuhan tidak suka dengan kebanggaan diri terhadap kebenaran diri sendiri. Karena kalo kita udah bener-bener sempurna, lantas kenapa kita masih diam di bumi ini? Untuk ekstremnya, berbuat dosa tidak hanya sekedar melanggar Firman Tuhan, namun saat kita tidak hidup dalam rancangan Tuhan dan tidak melakukan FirmanNya, itu pun dosa.

Lalu gw baca lagi buku itu, kali ini dengan hati yang sungguh-sungguh mau cari Tuhan dan ada statemen yang bagus banget menurut gw :

Pertobatan mempersiapkan jalan dan meluruskan jalan hidup kita. Pertobatan mempersiapkan kita untuk hadirat-Nya. Sebenarnya, Anda tidak dapat hidup dalam hadirat-Nya tanpa pertobatan.

Ini merupakan bagian terpenting dari apa yang harus saya katakan: Sudah berapa lama Anda berkata, “Saya datang mencari Tuhan? Sudah berapa lama Anda mengesampingkan segala sesuatu yang pernah menyita waktu Anda dan menyeberangi jalan pertobatan untuk mengejar Tuhan?” (Pemburu Tuhan, halaman 16-17)

Tanpa pertobatan tidak mungkin kita dapat hidup dalam hadirat-Nya. Kenapa seringkali sulit untuk bertobat? Karena kita menganggap kita sudah hidup benar, tapi penilaian itu kita buat berdasarkan standar kita… Pembimbing gw pernah bagiin bagus, Daud sekalipun hidup sebagai seorang yang bersekutu erat dengan Tuhan adalah seorang yang lembut hatinya, dia mau diuji oleh Tuhan.

Mazmur 26:2 Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.

Poinnya satu, gw menginginkan hadirat Tuhan yang sungguh-sungguh nyata, saat Tuhan benar-benar hadir dengan begitu kuat. Saat mengejar Tuhan dan ditangkap olehNya. Gw rasa hal ini tentu diinginkan oleh semua orang yang mengenal Kristus. Namun,untuk dapat hidup dalam hadirat Tuhan ada harga yang harus dibayar. Kita perlu membangun hubungan yang intim dengan Tuhan dan benar-benar memprioritaskan Dia di atas segalanya. Kita perlu untuk hidup dalam kekudusan dan rasa lapar yang semakin bertambah akan Tuhan hari ke hari. Dan ini bukan proses yang instan, butuh yang namanya ketekunan.

Tentu ga enak rasanya karena hidup dalam kekudusan berarti menyalibkan kedagingan. Dan gw tanya Tuhan, kenapa aku harus mengalami ‘penderitaan’ ini untuk mendapatkan Engkau? Dan jawabannya sederhana, barangsiapa yang mau mengikut Tuhan, harus memikul salibnya, menyangkal dirinya, dan mengikut Tuhan. Kita perlu benar-benar mematikan kedagingan kita untuk dapat bertemu Tuhan. Sekalipun mungkin rasanya sakit, tapi itulah yang akan memurnikan hidup kita dan menjadikan kita kuat. Dan tentunya Bapa sangat menginginkan kita dapat melewati setiap ujian di hidup kita dan menjadi semakin kuat.

Gw tahu bahwa apa yang gw bagiin baru akan ada dampaknya saat gw benar-benar menghidupinya. Dan jujur memang ga mudah untuk menyingkirkan segala keinginan daging dan berlari dengan sekuat tenaga menanggapi panggilan Tuhan dengan tidak berlambat-lambat. Bahkan it’s impossible kalo hanya dengan kekuatan sendiri, it’s possible if and only if with the sthrength from the Lord.

Ada harga yang mahal untuk hidup dalam komitmen. Tapi, semua adalah pilihan kita. Tuhan ga jadiin kita robot yang ga punya kebebasan memilih, tapi Dia beri kita kebebasan untuk memilih dan Dia menghargai keputusan kita. Meskipun demikian, Tuhan benar-benar menginginkan kita untuk memilih yang benar-benar tepat bagi kita. Dia berkata pilihlah hidup, namun perlu ada kematian untuk itu. Mati dalam daging. Apakah kita semakin lapar akan Dia? Apakah kita mengalami pemurnian dan goncangan lebih lagi? Apakah kita semakin dekat dengan Sang Buruan? Atau apakah kita masih mengejar Tuhan dengan rasa lapar yang sama seperti dulu, atau bahkan rasa lapar itu hampir padam? This is the time for acceleration. Banyak yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang terdahulu. Tapi peganglah janji Tuhan, siapa yang mencari-Nya dengan segenap hati dan berseru-seru memanggil nama-Nya akan diberi menemukan Dia. Gw ingin suatu saat Tuhan berkata, “anak-Ku, Aku sudah mendengar seruan-seruanmu. Dan hari-hari yang kau lalui dengan penuh ketekunan mencari Aku tidaklah sia-sia. Ini Aku, Allah yang kau cari dengan sepenuh hatimu.”

Tanpa langkah pertama tidak mungkin mencapai garis finish. Mungkin kita akan lewati saat-saat kelam dalam perjalanan, tapi bukankah Tuhan kita adalah gembala yang baik yang akan menuntun kita ke padang yang berumput hijau dan membawa kita ke air yang tenang? Dan bukankah gadanya dan tongkatnya yang akan menjagai kita?

It costs everything, but it means everything to seek God.

GBU all..

2 thoughts on “Repent Everyday

  1. weiiiss.. lengkapin dong pedang Tuhan yang ngiris-ngiris hatinya.. hahaha.. Baca buku pemburu Tuhan, lanjutin dengerin khotbah ibu Jannet.. hahaha…

    Darah mengucuuurrr….😛

    Duh tulisan lo makin bagus aja Su, tambah sistematis, rapih, make kutipannya dikasi halaman segala wkakakaka…😀

    Selamat mencari Tuhan dan ditangkap Tuhan yah..

    GBU

  2. Whehe… udah lama ga kesini… tapi u tetep keep going, good2… Soalnya everytime I see u all (and my friends in Christ), I’ll always smile.
    Eh, kenapa u ga ikut lomba blog Kristen aja? Dikirimin ama WordPress kan? Moga aja menang^^.
    NB: Sekedar info aja, ntar lagi kalo lagi ada waktu gw bakal post my own comic di deviant, semoga berkenan di hati Anda (ntar lagi, bukan sekarang! cateeet!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s