Story behind the journey to Japan

Tidak terasa sudah 1 bulan berada di Jepang, yang aku sadari penuh ini adalah anugerah dari Tuhan.

Hanya kemustahilan yang kulihat pada awalnya. Kebutuhan akan dana yang besar, kemampuan bahasa asing (Jepang atau Inggris), dilengkapi dengan restu dari orang tua. Merenung kembali ke awal tahun ini, ketika dalam perjalanan pulang dari mengajar, dalam suatu percakapan santai dengan Bapa. Aku mengungkapkan kejenuhanku akan rutinitas yang aku jalani hari-hari itu dan ingin mengalami bagaimana rasanya berada di tempat-tempat lain di bumi ciptaanNya ini dan tiba-tiba Dia berkata, “persiapkan dirimu nak, Aku akan membawamu ke banyak tempat.”

Pada waktu itu aku sangat senang dan menyimpan perkataan Tuhan itu. Aku berpikir bahwa Tuhan sedang berbicara akan sesuatu yang masih jauh, namun ternyata bagian pertama dimulai tahun ini. Sekarang, ketika aku mulai melihat bahwa hal yang mustahil bagiku ternyata hanya persoalan sepele di mata Tuhan. Maka, aku pun masuk dalam perenungan mengenai, mengapa Tuhan menyediakan kesempatan ini? Sekedar wisata kah? Ada tertulis di FirmanNya bahwa kita akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, kita akan memanggil bangsa yang tidak kita kenal dan mereka akan berlari kepada kita, oleh karena Tuhan Allah kita. Visinya adalah memberkati bangsa-bangsa.

Terpacu oleh hal ini,aku mulai berusaha untuk mengembangkan kapasitas kesana. Mulai suka belajar bahasa asing (yang dulu tidak pernah saya sukai), membangun network dengan teman-teman mancanegara, dan banyak mindset yang berubah. Termasuk juga melatih tubuh, karena aku mau tubuh ini siap untuk apa yang mau Tuhan kerjakan.

Tapi, hal yang terpenting adalah mengenal Tuhan. Persekutuan pribadi denganNya. Karena mustahil ranting dapat berbuah tanpa melekat pada pohon. Betul,betul?? Ini fondasinya, maka jika dasar tempat kita berdiri rubuh dengan apa lagi kita dapat bertahan? Jika kita meninggalkan Dia yang memberi anugerah siapa lagi yang dapat kita andalkan?

Bukan karena telah tahan uji saya menulis ini, karena saya masih suka berbuat kelalaian. Bersyukur, RohNya terus mengingatkan, mendentumkan peringatan dari kedalaman hati yang membawa kepada pertobatan.

Pada akhirnya yang Tuhan cari bukanlah orang yang hebat. Dia mencari orang yang dapat percaya padaNya, yang hanya percaya saja padaNya. Dia cari orang-orang seperti Daud yang juga tidak luput dari kelemahan, tapi yang kehendak hatinya adalah mencari apa yang menyenangkan Tuhan, yang mengikutiNya dengan sepenuh hati,dan yang tidak segan-segan merendahkan dirinya saat kesalahannya disingkapkan. Maka Tuhanlah yang akan meninggikan mereka seperti Dia juga telah menyertai raja-raja Israel dan Yehuda yang merendahkan hati di hadapanNya.

Maka saya juga menulis ini, bagi generasi-generasi yang masih akan datang. Biarlah takut akan Tuhan memenuhi hati generasi kalian, dan kalian bangkit sebagai generasi yang berhikmat, yang mengerti akan waktu-waktuNya Tuhan dan setia dalam segala perkara di hadapanNya.

Tentunya, aku pun akan terus berjuang di generasiku! Ganbatte!

One thought on “Story behind the journey to Japan

  1. Suuuuu…. Gara-gara Ona ngeshare link di fb, jadi baru baca d…
    Hmm…. Keren!

    Tuhan tuh selalu ‘berbisik’ ya… Menyatakan rencana-Nya! =)
    Good luck, Su!
    God bless always…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s