Disiplin diri

Selama kurang lebih empat bulan, blog ini ditelantarkan tanpa tulisan apa-apa. Bahkan sejujurnya, sudah hampir setahun sejak saya menuliskan sesuatu yang benar-benar layak dituliskan, bukan sekedar laporan kegiatan namun tulisan berisi hikmat mengenai kehidupan.

Saya sadar disiplin diri saya sangat kurang, padahal saya sudah berkomitmen untuk membuat sedikitnya satu tulisan baru per bulan. Bukan hanya tulisan, komitmen untuk berolahraga “serius” setiap minggunya pun saya langgar. Olahraga rutin hanya berjalan sebanyak hitungan jari dalam setengah tahun terakhir. Hal penting lainnya yaitu pengerjaan tugas akhir dan proyek pribadi yang sedang saya kerjakan. Karena waktu pengerjaan yang memang tersedia cukup panjang, saya kurang berdisiplin dalam memenuhi target yang saya tetapkan sendiri, dan ketika tenggat waktu mulai menyempit barulah mulai hati ini dag-dig-dug.

Berita baiknya, benih-benih perbaikan diri (baca : pertobatan) sudah ditabur dari sebulan lalu. Berawal dari awal bulan lalu, saya mengikuti suatu kelas penulisan yang membuka wawasan saya dan “memaksa” saya untuk produktif menulis. (Saya pikir perlu ada tulisan khusus mengenai kelas menulis dengan murid hanya tujuh orang ini, mungkin ketika pertemuan kami selesai di bulan Desember nanti). Selain itu awal bulan ini saya rutin berolahraga setelah mendaftar menjadi peserta di suatu pusat olahraga, semoga dengan adanya investasi yang dikeluarkan dapat menjadi lecutan tersendiri. Tugas akhir dan proyek pribadi pun kembail digarap secara serius dari minggu lalu.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi dari buku berjudul ‘21 kualitas kepemimpinan sejati’ oleh John C. Maxwell. Kualitas ke-18 adalah disiplin diri, dan saya ingin membagikan beberapa hal yang berkesan dalam bagi saya (tidak melanggar hak cipta penulis kan yah?)

· Siapapun, yang hanya mengerjakan apa yang harus dikerjakannya hanya jika ia bersemangat atau jika terasa nyaman, takkan sukses,

· Disiplin diri tak dapat dijadikan sesaat, disiplin diri harus dijadikan gaya hidup. Salah satu cara terbaik untuk mengembangkannya adalah dengan membuat sistem atau rutinitas di bidang-bidang yang penting bagi kita,

· Menantang dan menghapuskan kecenderungan untuk mencari-cari alasan,

· Menunda imbalan hingga menyelesaikan tugas,

· Berkonsentrasi pada kesulitan pekerjaan hanya akan membuat kecil hati,terpuruk, dan mengasihani diri bukan mendisiplin diri. Lebih baik berpusat pada keuntungan yang akan diperoleh dengan mengerjakan pekerjaan sebaik-baiknya.

Saya menyadari bahwa saya belum cukup mendisiplin diri. Namun saya memutuskan untuk berubah. Di akhir bab disiplin diri itu, Maxwell menceritakan tulisan yang dilihatnya di suatu tempat penyemaian benih tanaman di Kanada, “Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 25 tahun lalu”. Dan, waktu terbaik kedua adalah HARI INI. Jika belum, mari menanamkan pohon disiplin diri dari hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s