Berkelana ke Atambua

Atambua adalah kota perbatasan dengan Timor Leste dan berjarak sekitar 300 km dari Kupang. Transportasi umum di jalur darat tersedia bis dan travel. Tiket bus Kupang—Atambua berharga 50000 rupiah dan dengan travel sekitar 110000 rupiah. Sebetulnya perjalanan dengan travel akan lebih cepat, yaitu sekitar 5 jam jika dibandingkan dengan bis yang membutuhkan sekitar 8 jam diselingi oleh ngetem di berbagai tempat dari Kupang ke Atambua. Namun, karena tiket travel sudah habis dipesan, kami pun memilih bis antarkota saja.

P1040329

Ternyata perjalanan dengan bis tidaklah terlalu buruk, tempat duduknya cukup nyaman dan juga bis tidak menarik penumpang sampai melebihi kapasitas bis. Hanya, seringkali penumpang membawa berbagai barang bawaan dari kardus-kardus hingga motor yang diikat di belakang atau di atas bis. Perjalanan dari Kupang menuju Atambua melewati beberapa kota besar yaitu Soe, Niki-Niki, Kefa, dan baru sampai di Atambua. Bis akhirnya sampai di pasar baru kota Atambua sekitar pukul 4 sore waktu setempat tepat 8 jam dari awal perjalanan. Dari sana kami naik bemo ke lapangan Simpang Lima karena dari informasi yang kami dapatkan di sekitar sana terdapat beberapa penginapan.

P1040344

Tidak terlalu sulit bagi kami untuk mendapatkan penginapan, kami menginap di hotel pertama yang kami jumpai bernama Hotel Liurai. Hotel ini tampaknya sudah berdiri cukup lama, namun harga yang ditawarkan cukup bersahabat bagi pelancong dengan budget terbatas. Untuk kamar 2 orang dapat diperoleh dengan harga 70000 ribu (+PPN 10%) per malam. Cukup murah bukan?

P1040334

Dari sana kami mencoba menjelajah kota Atambua yang ternyata tak terlalu besar dan uniknya banyak nama jalan yang dapat ditemui di Jawa juga bahkan dengan penempatan yang mirip. Seperti jalan Jenderal Soedirman, Jenderal Gatot Subroto, Pattimura, dsb.

 P1040352

Pertokoan juga cukup banyak terdapat di Atambua. Toko-toko itu menjual berbagai jenis barang, namun umumnya berjenis toko serba ada dan makanan. Namun, tentunya ada juga apotik, toko buku, toko pakaian, dsb tapi jumlahnya hanya satu-dua. Kami mengunjungi satu toko buku di Atambua dan menemukan buka berisikan doa dalam bahasa asli daerah ini, yaitu bahasa Tetun. Konon katanya, bahasa Tetun ini masih digunakan dari Atambua sampai Timur Leste.

Hal yang menarik adalah kebanyakan dari pedagang di Atambua ternyata merupakan pendatang dari tanah Jawa ini, dari Solo, Surabaya. Dan mereka tampaknya berhasil di Atambua ini, terlihat dari rumah toko yang mereka gunakan besar-besar dan bertingkat. Orang Cina dan orang Jawa kembali menunjukkan ketangguhannya dalam mengeksplorasi tanah Indonesia ini.

P1040355

Kota Atambua cukup menyenangkan, belum semaju Kupang apalagi kota-kota besar lainnya namun jauh lebih maju dari kota besar lainnya di Pulau Timor seperti Soe dan Kefa. Mungkin karena letaknya yang dekat dengan perbatasan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s