Kasih dan Pengorbanan

Tradisi umat manusia tak pernah lepas dari pengorbanan. Kita mengenal berbagai jenis korban setidaknya dalam ritual : korban tebusan atas kesalahan, korban unjukkan untuk rasa syukur, dan banyak jenis korban lainnya. Hari-hari ini, kita dapat melihat teladan pengorbanan dari kehidupan keluarga. Banyak sekali contoh pengorbanan dari orang tua bagi anaknya. Mereka bersedia kelaparan agar anaknya mendapat makan. Mereka rela bekerja keras agar kebutuhan anaknya tercukupi. Bahkan mereka rela mati agar anaknya tetap hidup.

Tidakkah Allah sendiri telah meneladankan pengorbanan ini? Kita telah melihatnya dalam karya terbesar sejarah umat manusia : kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Dia adalah Anak Domba Allah yang telah menggantikan manusia yang berdosa melalui kematianNya di kayu salib padahal kesalahan kitalah yang dipikul-Nya. Syukur, Dia bangkit untuk memberikan pengharapan bagi setiap kita yang dikasihi-Nya.

Banyak alasan untuk berkorban, apalagi untuk kepentingan diri sendiri. Namun, alasan terbaik dan terbesar bagi pengorbanan adalah kasih. Kasih selalu memberi dan tidak egois. Memang, kita dapat berkorban sekalipun tidak memiliki kasih. Namun kita tidak dapat mengasihi tanpa berkorban. Mari mengasihi, bukan sekedar berkorban!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s