Spesialis dan Generalis


Sewaktu kecil saya pernah berkeinginan suatu saat nanti saya akan menjadi penemu. Saya suka membaca kisah orang-orang seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Johannes Guttenburg, James Watt, dsb . Mereka adalah orang-orang yang menjelajahi dunia sains sepanjang hidupnya.

Di jaman mereka, belum banyak produk teknologi canggih seperti jaman ini dan merekalah yang berhasil membuat terobosan itu, Sekalipun demikian, saya yakin bahwa masih ada penemuan-penemuan baru yang belum terungkapkan hingga hari ini. Pertanyaannya adalah siapa penemunya?

Sejak kecil saya gemar dengan bidang eksakta. Sementara banyak teman saya yang antipati dengan hal-hal yang memerlukan logika dan aritmatika, kebalikannya yang saya alami. Mungkin juga faktor penguatnya karena dulu saya sangat pemalu dan penyendiri. Maka bidang eksakta yang tidak membutuhkan keterlibatan banyak orang menjadi satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan nyaman. Beberapa prestasi telah saya peroleh di bidang matematika dan komputer, namun sekeras-kerasnya saya berusaha prestasi tersebut hanyalah sebagai finalis.

Saat ini saya hampir menyelesaikan perkuliahan sarjana di bidang informatika. Dan saya menyadari bahwa saya bagus di bidang eksakta, namun mungkin bukan saya untuk menjadi yang terbaik di bidang itu. Sementara itu dalam lima tahun masa perkuliahan, saya juga diperkenalkan dengan dunia sosial : ekonomi, sejarah, agama yang selain memperkaya khazanah hidup saya, hal-hal ini juga menggeneralisasi hidup saya. Eksakta tidak lagi menjadi satu-satunya pendamping hidup saya dan dengan kondisi seperti ini semakin jauhlah rute saya untuk menjadi yang terbaik di eksakta.

Dalam perenungan bersama Sang Penulis kehidupan, saya harus jujur pada diri saya bahwa kehendak-Nya bagi saya bukan untuk menjadi yang terbaik di bidang eksakta atau menjadi seorang penemu kaliber dunia, Hal yang ditaruhkan-Nya bagi saya justru untuk mengelola kekayaan bangsa-bangsa bagi kesejahteraan bangsa ini dengan meneladani Kristus. Akhirnya saya harus memutuskan bahwa lebih baik berhasil dan maksimal sebagai generalis daripada gagal menuju spesialis.

Tentunya saya tidak menutup kemungkinan saya dapat menjadi penemu suatu hari nanti, toh Albert Einstein pun mengemukakan pemikirannya yang brilian di berbagai bidang berbeda. Saya tidak akan lagi berpikiran sempit dengan memakai kacamata kuda untuk satu bidang ilmu! Menjadi maksimal, itu poinnya! Bagaimana dengan Anda?

Catatan kaki : penggunaan istilah spesialisasi dalam tulisan ini berarti menekuni hanya 1 sub-bidang ilmu, katakanlah tentang sifat lensa. Jadi saya mendapatkan nilai 10 untuk pengetahuan tentang sifat lensa, namun mendapatkan nilai 5 untuk hal-hal lainnya. Sementara generalisasi berarti saya mendapatkan nilai 8 untuk banyak bidang ilmu yang seyogyanya tetap saling berkaitan dan mendukung satu sama lain.

Catatan : di September 2016, saya menemukan satu artikel di http://www.forbes.com/sites/michaelsimmons/2015/03/23/how-one-life-hack-from-a-self-made-billionaire-leads-to-exceptional-success/#16b7f3c244c6  yang selaras dengan ide saya untuk mendapatkan nilai 8 di banyak bidang ilmu, istilahnya expert-generalist (spesialis – generalis). Orang-orang seperti Thomas Alfa Edison, Warren Buffet, Elon Musk, Steve Jobs ternyata masuk dalam kategori ini. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s